Senin, 07 April 2014

Benarkah Tragedi 1998 akan terulang??


            Perlu diketahui bahwa, dari sejak tahun 1967 Indonesia sudah menyerahkan dirinya untuk diatur dan dijadikan target peghisapan oleh korporasi Internasional.[1] Para pemimpin yang pernah dan sedang berkuasa pun menuntun dan memfasilitasinya dengan membuat undang-undang penanaman modal asing, yang pada akhirnya pemerintahan pun dikendalikan oleh bangsa asing., terutama Amerika Serikat dan sekutu-sekutunya.
             Pada masa Orde Baru, bangsa asing menjadi pemegang kendali mutlak roda perekonomian bangsa. Kemandirian ekonomi pada masa Soeharto telah rapuh seiring dengan keterikatan negara Indonesia terhadap lembaga-lembaga imperialisme seperti World Bank, Asian Development Bank, IMF, USAID, dan CGI. Lembaga-lembaga tersebut memiliki kepentingan politik-ekonomi untuk menguasai sumber daya alam dan pasar Indonesia. Mereka menggunakan lembaga-lembaga ini untuk merealisasikan penjajahan ekonomi di negeri ini.  Penyerahan tambang minyak dan gas bumi serta diizinkannya Freeport masuk ke Indonesia menjadi bukti bahwa bangsa ini dikendalikan oleh lembaga-lembaga imperialisme bentukan luar negeri.  
            Ketika masa Gus Dur berkuasa, pihak asing melekatkan diri melalui lembaga-lembaga baru yang tidak pernah dikenal sebelumnya dalam ketatanegaraan Indonesia, yaitu Dewan Ekonomi Nasional dan Tim Asistensi pada Menko EKUIN, yang disponsori dan dipaksakan kepada Gus Dur oleh kekuatan-kekuatan asing.
            Sementara, dalam era Megawati, pihak asing mengambil kembali sepenuhnya melalui menteri-menteri yang menguasai dan menentukan kebijakan ekonomi. Pada masa pemerintahan putri Soekarno ini telah banyak mengambil keputusan-keputusan dalam bidang ekonomi yang lebih memperburuk ekonomi rakyat bahkan melapangkan jalan guna pengerukan kekayaan alam Indonesia serta pembenaran atas diobralnya aset nasional kepada swasta asing, seperti pada kasus penjualan saham Indosat. Dalam kasus privatisasi Indosat pada tahun 2002 ini, disinyalir penguasa menerima komisi penjualan aset tersebut sebesar 7 persen untuk kepentingan partai politiknya dan pemenangan Pemilu Presiden 2004-2009.[2]
          Kini, di era SBY, kendali ekonomi semakin kokoh ada pada kekuatan asing. Pada masa pemerintahannya yang katanya paling demokratis dibandingkan dengan masa Orde Lama dan Orde Baru ini, ternyata hanya menuai kesengsaraan dan penderitaan rakyat. Pada masa pemerintahan SBY ini semakin rajin mengobral aset negara. Pada tahun 2007, pemerintah merencanakan 15 BUMN yang hendak di privatisasi[3], sedangkan tahun 2008 BUMN yang hendak diprivatisasi mencapai 44 BUMN.

            Anggaran APBN yang semestinya digunakan untuk memenuhi kebutuhan rakyat justru mereka gunakan sebagian besarnya untuk menutupi hutang negara. Seakan-akan  rakyat yang harus menutupi dan membayar hutang akibat ulah para penguasa yang telah menyebabkan negara ini bangkrut. Para penguasa yang seharusnya melayani publik, mereka justru tidak peduli dengan keadaan rakyatnya. Mereka lebih memperdulikan pelayanan terhadap para “tuan” nya di negeri asing. Sedangkan, subsidi untuk kebutuhan rakyatnya sendiri dan pelayanan publik tidak pernah mereka perhatikan. Inilah yang selama ini menjadi penyakit dan penyebab masyarakat Indonesia menjadi semakin miskin dan terbelakang. Kekayaan alam Indonesia yang begitu melimpah, tapi rakyatnya sendiri hidup dalam keadaan serba susah. Mayoritas masyarakat hanya dijadikan sapi perah di negerinya sendiri. 
                   Jika kita yang merasa memiliki keyakinan dan pendirian yang benar maka sudah selayaknya kita berjuang dengan ikhlas untuk menyelamatkan negara ini yang hakekatnya merupakan karunia dari Allah SWT. Kita harus bangkit dari keterpurukan dan segera mencampakkan sistem demokrasi serta ide-ide kapitalis dari kehidupan bernegara dan bermasyarakat. Dengan terus menerus berjuang disertai dengan keyakinan akan adanya pertolongan Allah bahwa pada akhirnya nanti para penguasa dzalim itu pun akan menjadi tumbal dan menemui ajalnya serta hukuman yang disebabkan oleh perbuatannya sendiri hingga mereka pun mengakhiri kekuasaanya.

            Mengenai hal ini, Prabu Siliwangi telah menyampaikan dalam wangsitnya, beliau mengatakan:       

“Kekuasaan penguasa buta tidak berlangsung lama, tapi karena sudah kelewatan menyengsarakan rakyat yang sudah berharap agar ada mukjizat datang untuk mereka. Penguasa itu akan menjadi tumbal, tumbal untuk perbuatannya sendiri.”

            Ulah para penguasa yang pernah dan sedang berkuasa di negeri ini memang sudah kelewatan dalam menyengsarakan rakyatnya. Pergantian penguasa dari mulai Orde Lama, Orde Baru, hinggi kini di era reformasi tidak pernah memberikan kemakmuran dan kesejahteraan, selain penderitaan yang dialami oleh masyarakat akibat dipimpin oleh manusia-manusia yang serakah.
            Oleh karena itu, kepemimpinan adalah perkara penting dalam kehidupan ini karena dapat membawa kejayaan atau kesengsaraan masyarakat yang dipimpinnya, baik di dunia apalagi di akhirat nanti. Banyak orang yang menderita di dunia karena kepemimpinan yang abused power[4] dan banyak pula orang yang masuk neraka karena sewaktu hidupnya mengikuti para penguasa yang durhaka kepada Allah SWT.
            Mereka sangat kecewa sehingga mengutuk penguasa yang sudah kelewatan menyengsarakan rakyat yang sudah berharap agar ada mukjizat datang untuk mereka. Betapa besarnya penyesalan dan kemarahan rakyat yang telah didzolimi oleh penguasa yang sebelumnya menjanjikan kesejahteraan, tetapi nyatanya rakyat tak pernah mendapatkan kesejahteraan dan yang ada malah kesengsaraan. Rakyat yang sudah berharap agar ada mukjizat[5]; penguasa yang adil dan dapat membawa negeri ini pada kemajuan, namun malah semakin membuat negeri ini terpuruk. 
         Disadari atau tidak, semua para penguasa yang pernah dan sedang berkuasa di negeri ini bekerja bukan untuk kepentingan rakyatnya. Kebanyakan mereka bekerja demi melayani kepentingan asing. Meskipun mereka mengklaim bekerja hanya demi kepentingan rakyat, tapi nyatanya mereka mengabaikan hak-hak rakyat.
           Selama dua periode kepemimpinan Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) nasib rakyat tidak mengalami perubahan. Secara struktur ekonomi, kebijakan pemerintah selama ini tidak bisa lepas dari kapitalisasi. Paling mudah melihat arah kebijakan pemerintah itu yakni keluarnya Peraturan Presiden No. 111/2007 tentang Perubahan atas Peraturan Presiden No.77/2007 tentang Daftar Bidang Usaha yang tertutup dan Bidang Usaha yang Terbuka dengan Persyaratan di Bidang Permodalan.
            Dalam Perpres tersebut, beberapa bidang usaha yang terkait dengan hajat hidup orang banyak seperti pertambangan, kesehatan, dan tanaman pangan, ternyata pihak asing bisa memiliki saham hingga di atas 65 persen. Artinya investor asing bisa mengelola sumber daya alam yang harusnya pemerintah lah yang mengusahakan. Kebijakan ekonomi yang keluar justru makin membuat nasib rakyat semakin miskin. 
            Selain kebijakan pemerintah yang cenderung liberal ketimbang membela rakyatnya, parahnya lagi pinjaman luar negeri dan surat berharga negara terus meningkat. Menurut data Kementerian Keuangan tahun 2009, utang pemerintah Indonesia mencapai Rp. 972,253 triliyun untuk utang obligasi dan 65,73 milyar dolar AS (Rp. 772,92 triliyun) untuk utang luar negeri.[6] Dengan target penerimaan negara sebesar Rp. 847,7 triliyun, pembayaran utang negara pada tahun 2009 memakan 20,31 persen pendapatan APBN, sedangkan cicilan bunganya saja mencapai 12 persen. Diprediksi pada tahun 2014, nilai utang luar negeri pemerintah yang jatuh tempo diperkirakan mencapai 31,545 milyar Dollar AS. Ironis, sebagai negara yang mempunyai sumberdaya alam yang sangat melimpah, ternyata bangsa ini hidup dari utang.
            Ketika masa pemerintahan SBY-JK, mereka pernah menjual blok minyak dan gas, menjual BUMN dan berutang. Boediono yang saat pemerintahan Megawati menjadi Menko Perekonomian justru menyetujui kontrak blok gas Tangguh, yang berpotensi merugikan negara Rp. 750 triliyun (25 tahun) dan menjual murah Indosat sekitar Rp. 5,26 triliyun kepada Temasek Holding. Kemudian kebijakan tersebut dilanjutkan oleh SBY dengan mengizinkan Qtel (Qatar Telecomunication) membeli saham Indosat dari Temasek Holding sebesar 1,8 miliar Dollar AS dan menguasai saham Indosat hingga 65 persen.
         Kebijakan mengenai hutang luar negeri dan penjualan aset-aset negara seakan-akan menjadi pilihan wajib untuk menutupi defisit anggaran. Di sisi lain, berbagai macam subsidi yang selama ini dinikmati oleh rakyat banyak (mulai dari subsidi BBM, pendidikan, kesehatan, dan sebagainya), pelan-pelan tapi pasti mulai dicabut satu persatu oleh pemerintah SBY. Akibatnya, rakyat tidak lagi bisa menikmati layanan-layanan publik dengan mudah dan murah. Sebaliknya, mereka harus merogoh kantong lebih dalam agar bisa menikmati layanan-layanan publik yang semakin hari semakin mahal dengan kualitas yang semakin buruk. Contohnya, meningkatnya biaya kesehatan dan minimnya ketersediaan layanan kesehatan gratis di berbagai rumah sakit, sehingga menjadikan masyarakat tidak bisa berobat akibat biaya kesehatan yang semakin tak terjangkau oleh mereka, terutama rakyat miskin. Kalaupun ada rumah sakit yang biaya kesehatannya murah, pasti kualitas dan pelayanannya pun sangat buruk.    
            Kebijakan-kebijakan yang menyangkut perkara-perkara ini juga didesain secara integral oleh SBY. Tidak aneh, jika kemudian keadaan negeri ini semakin liberal dan banyak aset-aset milik rakyat yang telah dijualnya. Walhasil, kondisi rakyat pun semakin hari semakin miskin dan sengsara. Dampaknya tumbuh penyakit sosial di masyarakat, seperti kriminalitas, pelacuran, gelandangan, pengemis yang hampir setiap hari kita temukan di pinggir-pinggir jalan dan pada setiap lampu merah.
            Dengan berbagai bukti dan kenyataan yang ada tersebut, masyarakat sebaiknya jangan terlalu berharap terlalu tinggi bahwa dengan sistem demokrasi bisa mensejahterakan rakyat. Suatu saat nanti kemarahan rakyat akan memuncak karena telah menjual dan merampok kekayaan alam Indonesia yang sejatinya adalah milik rakyat. Akan ada penguasa yang menjadi tumbal kemarahan rakyat dan dituntut harus bertanggungjawab dengan apa yang telah  diperbuatnya terhadap bangsa ini hingga rakyatnya sendiri menjadi miskin dan menderita.  
            Kemudian, menurut Prabu Siliwangi dalam wangsitnya, mengatakan bahwa penguasa tersebut akan menjadi tumbal, tapi nanti saat munculnya budak angon.
            Ketekunan dan kesabaran budak angon dalam memperjuangkan kebenaran pada akhirnya nanti akan berbuah manis dan mampu menepis segala keraguan akan kebenaran amanat Prabu Siliwangi. Dengan keberanian yang dimilikinya, ia akan berhasil membongkar kejahatan-kejahatan para penguasa negeri ini. Ia cukup berani untuk mengatakan kebenaran secara terang-terangan kepada para penguasa yang dzalim tanpa menghiraukan ancaman-ancaman dari mereka.
            Kita pasti tahu, bahwa sudah begitu banyak para pejuang kebenaran yang berjuang di jalan Allah yang dipenjarakan bahkan dibunuh hanya karena menyuarakan kebenaran. Para penguasa negeri ini dengan menggunakan legitimasi kekuasaannya berusaha untuk menekan dan meneror para penegak kebenaran. Menurut mereka, ukuran kebenaran kekuasaan bukan lagi hati nurani yang tunduk pada hukum-hukum Allah, tetapi adalah apa yang dapat melanggengkan kekuasaan. Dan apapun yang telah mengancam kekuasaannya, akan dianggapnya sebagai kesalahan yang harus diberantas habis dengan cara-cara yang dzalim dan tindakan-tindakan yang tak bermoral.
            Meski demikian, budak angon ini tidak pernah mengindahkan larangan dan ancaman tersebut. Dengan membawa berbagai bukti-bukti nyata, ia justru semakin berani untuk membongkar kedok-kedok para penguasa meskipun dirinya harus berhadapan dengan maut. Ia juga berupaya untuk membangun kesadaran masyarakat dan berjuang sekuat tenaga untuk melepaskan bangsa ini dari cengkeraman para penjajah. Oleh sebab itu, inilah alasan mengapa Prabu Siliwangi mengatakan bahwa penguasa tersebut akan menjadi tumbal, tapi menunggu kemunculannya budak angon.
            Kemudian, jika suatu saat sudah muncul (dikenal) budak angon yang sudah lama dinantikan kehadirannya oleh masyarakat Indonesia, khususnya keturunan Sunda ini, Prabu Siliwangi mengatakan dalam wangsitnya:

“Di situ akan banyak huru-hara, yang bermula di satu daerah semakin lama semakin besar meluas di seluruh negara. Yang tidak tahu menjadi gila dan ikut-ikutan menyerobot dan bertengkar. Dipimpin oleh pemuda gendut! Sebabnya bertengkar? Memperebutkan tanah. Yang sudah punya ingin lebih, yang berhak meminta bagiannya. Hanya yang sadar pada diam, mereka hanya menonton tapi tetap terbawa-bawa. Yang bertengkar lalu terdiam dan sadar ternyata mereka hanya memperebutkan pepesan kosong, sebab tanah sudah habis oleh mereka yang punya uang.”

            Aksi-aksi budak angon di awal kemunculannya nanti, akan mengejutkan banyak pihak dan menimbulkan berbagai reaksi dari lapisan masyarakat. Ia akan dianggap membawa pengaruh dan berhasil memunculkan gerakan penyadaran dan arus kesadaran tauhid sejati dalam masyarakat. Arus penyadaran umat dan masyarakat yang dibangunnya akan mengakar kuat bahwa sesungguhnya para penguasa di negeri ini adalah penjajah.
            Kemudian di situ akan banyak huru-hara; artinya setelah terbongkarnya siapa sesungguhnya para penguasa, maka nanti akan menuai berbagai reaksi dan protes (demonstrasi) dari masyarakat  yang bermula di satu daerah semakin lama semakin besar meluas di seluruh negara. Tindakan-tindakan para penguasa lambat laun akan terungkap sehingga akan menimbulkan berbagai kerusuhan bahkan aksi-aksi yang anarki untuk menuntut para penguasa atas kesengsaraan rakyat yang disebabkannya.
            Sedangkan, huru-hara yang akan terjadi nanti, diyakini bahwa kejadiannya akan lebih besar daripada tragedi Mei 1998 semasa penggulingan Soeharto. Jika pada kerusuhan Mei 1998 yang telah menewaskan ribuan orang dan menyebabkan banyak kerusakan material serta telah menghancurkan ribuan toko dan sejumlah mobil, gedung-gedung perkantoran, restoran, hotel, pom bensin, kantor polisi, dan kantor-kantor lainnya, maka pada kerusuhan (huru-hara) nanti setelah munculnya budak angon akan lebih parah daripada tragedi Mei 1998.
            Kerusuhan tersebut akan bermula dari satu daerah atau kota di Indonesia. Kemudian, kerusuhan itu akan meluas dan menyebar ke berbagai kota besar dengan kecepatan yang mengerikan. Lalu, kerusuhan tersebut nantinya akan bermuara di Jakarta yang selama ini menjadi pusat negara Indonesia. Benarkah akan terjadi revolusi di Indonesia??
          Simak selengkapnya dalam Buku “TERBONGKAR: Menjawab Misteri Isi Wangsit Siliwangi”. Buku ini secara lengkap mengupas kebenaran sejarah masa lalu dan masa kini yang akan membuat pembaca tersadar seperti terbangun dari mimpi.

Penulis : Gugun Sopian
Penerbit : Pustaka Rahmat 
Tebal   : 174 Halaman 

Bagi yang berminat dengan buku tersebut dapat mendatangi toko-toko buku terdekat dengan tempat tinggal anda, sebagai berikut: 

  • Toko Buku Toga Mas Supratman dan Toga Mas Buah Batu, Bandung 
  • Rumah Buku Supratman, Bandung
  • Toko Buku Gelap Nyawang ITB 
  • Toko Buku Merauke (Cirebon, Garut, Pamanukan, Karawang, Purwakarta, Sukabumi, dan Bogor) 
  • Toko Buku Alinea (Griya Cinunuk, Cimahi, Griya Kuningan, dan Griya Subang)
  • Toko Buku RS Borromeus 
  • Toko Buku Ceria, Malang
  • Toko Buku Zanafa I dan Zanafa II, Pekanbaru 
  • Toko Buku BBC Cikutra, Palasari II, Giant Pasteur, Giant lembang, dan Giant Lampung 
  • Toko Buku Kisera, Jatinangor 
  • Toko Buku Kasidah Cinta, depan UIN Bandung 
  • Toko Buku IBC, depan UIN Bandung 
  • Toko Buku Ar-Risalah Palasari, Bandung 
  • Toko Buku Aldy Buku, depan UNPAD Jatinangor 
  • Toko Buku Rumah Ibu, Sumedang   


Telah banyak bangsa dan negara yang jauh lebih kuat yang telah tumbang dan hancur karena menolak kebenaran yang bersumber dari hukum Allah SWT. Seharusnya, para penguasa negeri ini bisa mengambil pelajaran dari perjalanan sejarah. Rentetan takdir Allah yang telah terjadi sepanjang bentangan sejarah peradaban manusia telah membuktikan bahwa semua negara dan kekuasaan yang menolak kebenaran, apalagi menolak hukum Allah, selalu berakhir dengan kehancuran. (Gugun Sopian) 




[1] Koraninternet.com, 25 Mei 2008
[2] Indikasi ini dilaporkan Indonesian Corruption Watch (ICW) dalam Corruption Outlook, 2008.
[3] Privatisasi adalah penjualan aset-aset negara
[4] Menyalahgunakan kekuasaan
[5] Menurut kamus besar Bahasa Indonesia, mukjizat berarti kejadian (peristiwa) ajaib yang sukar dijangkau oleh kemampuan akal manusia. Contohnya, mukjizat yang Allah berikan kepada para Nabi dan Rasul. Namun, dalam hal ini, mukjizat yang dimaksudkan oleh Prabu Siliwangi dalam wangsitnya adalah adanya perubahan atau perbaikan yang dikehendaki oleh rakyat menuju arah yang lebih baik yang dapat melepaskan mereka dari belenggu kemiskinan. 
[6] Media Umat, Edisi 22, 23 Oktober 2009

Tidak ada komentar:

Posting Komentar